LIREP THE REALTOR. INTELIJEN INVESTASI · Outlook 2026

Pertanyaan yang paling sering kami dengar dari investor internasional bukan lagi apakah harus berinvestasi di Indonesia, melainkan di mana. Dan dalam sembilan dari sepuluh percakapan, pilihan mengerucut menjadi dua nama: Bali , destinasi mapan berkelas dunia, dan Lombok, tetangga yang tumbuh cepat di seberang Selat Lombok. Laporan ini menjawabnya dengan data, bukan sentimen.

6.33M+19.4%
Kunjungan asing Bali, 2024 (BPS Bali)
+51%YoY
Pertumbuhan kunjungan NTB, 2024
2.37M
Penumpang Bandara Lombok, 2024 (AP I)
Rp 17T
Komitmen investasi KEK Mandalika (ITDC)

Latar Makro: Pariwisata Indonesia Kembali ke Rekor

Setiap keputusan properti di pasar berbasis pariwisata dimulai dari satu variabel: arus manusia. Pada 2024, Indonesia mencatat 13,9 juta kunjungan wisatawan asing, naik sekitar 19% dari tahun sebelumnya menurut BPS, mendekati puncak pra pandemi 16,1 juta pada 2019. Belanja rata rata per kunjungan sekitar US$1.391. Ini bukan pemulihan yang rapuh; ini fondasi permintaan yang mengeras kembali.

13,9MKunjungan asing Indonesia, 2024
US$1.391Belanja rata rata per kunjungan
16,1MPuncak pra pandemi (2019)

Bali adalah mesin utama pemulihan itu. Provinsi ini mencatat 6,33 juta kunjungan asing pada 2024 (+19,4%), lalu naik lagi menjadi sekitar 6,95 juta pada 2025 menurut BPS Bali, melampaui level sebelum pandemi. Pasar utama tetap Australia, disusul India, Tiongkok, Korea Selatan, dan Inggris.

Pemulihan pariwisataKunjungan wisatawan asing Bali, kembali di atas puncak pra pandemiJuta kunjungan asing per tahun
Bali
10M 7.5M 5M 2.5M 0M20192022202320242025

Source: Foreign Tourist Statistics of Bali Province, BPS Bali, 2024–25.

Intelijen Pasar
Volume kunjungan adalah leading indicator paling andal untuk okupansi, ADR, dan pada akhirnya nilai lahan. Bali membuktikan bahwa permintaan telah pulih sepenuhnya; pertanyaannya kini adalah di mana pertumbuhan berikutnya terjadi dengan harga masuk paling menarik.
Tahukah Anda?
Australia saja menyumbang sekitar 1,63 juta kunjungan asing Bali pada 2025, lebih banyak dari total kunjungan tahunan ke seluruh Nusa Tenggara Barat. Kedalaman pasar sumber itulah moat permintaan Bali saat ini, sekaligus cetak biru bagi rute konektivitas langsung yang kini dibangun Lombok satu maskapai demi satu maskapai.
Transisi bagian

Dengan permintaan nasional pulih, profil kematangan masing masing pulau menjadi variabel penentu.

Bali: Kekuatan dan Batas dari Kematangan

Keunggulan Bali sederhana namun kuat: ini adalah pasar yang telah terbukti. Permintaan sewa dalam dan sepanjang tahun, terdiversifikasi lintas puluhan pasar sumber. Infrastruktur, bandara internasional besar, jaringan jalan, utilitas, ekosistem hospitality, sudah lengkap. Likuiditas resale adalah yang terbaik di antara pulau pulau Indonesia. Bagi investor yang mengutamakan arus kas dan kemudahan exit, Bali sulit ditandingi.

6,95MKunjungan asing Bali, 2025
Sepanjang tahunKedalaman permintaan sewa
TertinggiLikuiditas resale (pulau Indonesia)

Namun kematangan membawa konsekuensi. Di koridor paling padat, sebagian Canggu dan Uluwatu, pasokan vila tumbuh cepat dan penegakan zonasi mengetat. Hal ini dapat menekan yield dan memperlambat apresiasi di kantong yang paling terbangun. Harga masuk lahan prima kini premium. Bali tetap dalam dan likuid, tetapi capital growth yang mudah di masa lalu kini menuntut seleksi lokasi dan produk yang jauh lebih disiplin.

Vila premium tepi pantai dengan infinity pool dan akses laut saat golden hour, mewakili pasar properti matang Bali Selatan
Puncak pasar: vila infinity pool dengan akses laut dan arsitektur premium mendefinisikan koridor paling dicari di Bali Selatan.LIREP visualization
Kontrasnya

Bali mendefinisikan benchmark matang. Lombok mewakili titik lebih awal pada kurva investasi yang sama.

Lombok: Kurva Awal yang Dilewati Bali Dua Dekade Lalu

Jika Bali adalah bab akhir, Lombok adalah bab pembuka, dan di situlah asimetri berada. Kunjungan Nusa Tenggara Barat melonjak sekitar 51% pada 2024 menjadi ~1,2 juta, dan sekitar 68% di atas level 2019. RevPAR hotel Lombok naik sekitar 26% YoY pada 2024 menurut HVS. Pertumbuhan dari basis rendah selalu terlihat dramatis dalam persentase, tetapi arahnya jelas dan didukung fundamental nyata.

+51%Pertumbuhan kunjungan NTB, 2024
+26%Pertumbuhan RevPAR Lombok, 2024
1,2MTotal kunjungan NTB, 2024
Pemandangan udara golden hour pesisir Lombok Selatan di Selong Belanak dengan laut jernih, vila boutique, dan perbukitan Tampah, koridor investasi emerging
Lombok Selatan saat golden hour: Selong Belanak, Tampah Hills, dan tanjung Merese, koridor awal siklus dengan lahan prima yang masih tersedia pada harga masuk rasional.LIREP visualization
Momentum emergingKunjungan Nusa Tenggara Barat, tumbuh dari basis lebih rendahJuta total kunjungan (Lombok & Kepulauan Gili)
Kunjungan NTB
2M 1.5M 1M 0.5M 0M 0.71M2019 0.79M2023 1.2M2024

Source: NTB tourism development, BPS Nusa Tenggara Barat, 2024.

Katalis strukturalnya adalah Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika , 1.035,67 hektar di pesisir selatan yang dikelola ITDC, tempat Sirkuit Internasional Mandalika penyelenggara MotoGP. ITDC melaporkan komitmen investasi total sekitar Rp 17 triliun, sementara MotoGP 2025 menghasilkan estimasi perputaran ekonomi Rp 4,8 triliun. Pada Q1 2026, Lombok Tengah saja mencatat Rp 2,1 triliun investasi terealisasi. Konektivitas pun membaik: Scoot menambah Singapura–Lombok menjadi 10 penerbangan mingguan pada 2026.

Investment Insight
Pola Bali dua dekade lalu, konektivitas membaik, pasokan hospitality bertumbuh, lahan prima menjadi langka, nilai terapresiasi, kini terlihat pada tahap yang jauh lebih awal di Lombok selatan. Investor awal siklus membeli runway, bukan sekadar aset.

Adu Langsung: Perbandingan Investor

Menempatkan keduanya berdampingan memperjelas bahwa ini bukan soal pemenang mutlak, melainkan kecocokan strategi.

Adu langsungBali vs Lombok, perbandingan investorSepuluh dimensi dibandingkan berdampingan. Penanda keunggulan menunjukkan pasar yang lebih kuat pada setiap metrik, bukan pemenang keseluruhan.
DimensiBaliLombok
Tahap pasarMatang, mapan globalEmerging, pertumbuhan awal
Harga masuk (lahan prima)Premium, bergantung koridor~50–70% lebih rendah dari Bali
Ruang capital growthMenyempit di zona primaAwal siklus, headroom tinggi
Kedalaman permintaan sewaDalam, sepanjang tahun, terdiversifikasiBertumbuh, dipimpin event & musim
Ketersediaan lahan primaLangka di koridor utamaMelimpah lahan pantai & view
Aksesibilitas internasionalHub besar, banyak rute langsungMembaik (Scoot, AirAsia, SIN/KUL)
InfrastrukturLengkap namun padatPeningkatan cepat (bypass, KEK)
Angin dukungan regulasiMapan, zonasi mengetatInsentif KEK, pro investasi
Investor paling cocokPencari yield & likuiditasCapital growth & early mover

Skor Investasi: Kerangka Delapan Dimensi LIREP

Untuk melampaui narasi, LIREP menilai kedua pasar pada delapan dimensi menggunakan model underwriting kami. Skor bersifat advisory, cerminan penilaian profesional, bukan statistik resmi.

Kerangka skoring LIREPBali vs Lombok, skor investasi delapan dimensiSkor advisory, 0–10 (makin tinggi makin kuat)
LombokBali
Ruang capital growth 9 6.8 Yield sewa bruto 8.2 7.4 Nilai harga masuk 9.2 5.6 Ketersediaan lahan prima 9.3 4.5 Kematangan pariwisata 6.4 9.4 Kedalaman infrastruktur 6.6 8.8 Aksesibilitas internasional 6.2 9.2 Likuiditas resale 6.8 8.6

Kerangka proprietary LIREP, advisory, bukan statistik resmi.

76 / 100
Komposit LombokDipimpin growth & value
75 / 100
Komposit BaliDipimpin maturity & likuiditas
76Indeks komposit Lombok
75Indeks komposit Bali
8Dimensi dinilai

Hasilnya intuitif begitu dilihat: Lombok memimpin pada capital growth, nilai masuk, dan ketersediaan lahan; Bali memimpin pada kematangan pariwisata, aksesibilitas, dan likuiditas. Indeks komposit berdekatan, yang menegaskan bahwa pilihan tepat adalah fungsi dari tujuan investor.

Harga & Yield

Perbedaan paling nyata adalah titik masuk. Lahan prima Lombok umumnya 50–70% lebih rendah dari koridor Bali yang setara, sementara tarif malam untuk produk premium tetap kompetitif. Kombinasi biaya masuk rendah dan tarif sehat inilah yang membuat yield bruto Lombok dapat sebanding atau melampaui Bali, dengan modal awal jauh lebih kecil.

50–70%Diskon masuk Lombok vs Bali
100Indeks koridor Bali (=100)
32–44Rentang indeks Lombok
Harga masuk relatifHarga masuk Lombok vs Bali, indeks setaraDiindeks ke koridor Bali setara = 100 (makin rendah = masuk lebih murah)
BaliLombok
100 75 50 25 0 100 34Lahan pantai / are 100 73Bangun vila / m² 100 49Vila prima 3KT

Diindeks ke koridor Bali setara (=100). Titik tengah indikatif Bali: lahan pantai ~US$95k/are · bangun vila ~US$850/m² · vila prima 3KT ~US$850k. Estimasi advisory LIREP, hanya indikatif, bukan statistik resmi.

Vila mewah tepi laut dengan pantai pasir putih dan arsitektur premium di Lombok Selatan, peluang investasi beachfront saat golden hour
Peluang investasi beachfront: vila premium tepi laut di pasir putih menawarkan tarif malam kompetitif dengan modal masuk jauh lebih rendah daripada koridor Bali setara.LIREP visualization
Investor Tip
Jangan membeli persentase yield rata rata pasar, belilah aset. LIREP mengunderwrite setiap properti secara individual: okupansi realistis, biaya operasi terkelola, struktur legal bersih, dan kekuatan narasi sewa lokasi tersebut.

Ada pendorong kedua yang lebih senyap di balik selisih harga: mekanika capital growth. Di pasar awal siklus, lahan terapresiasi saat tiga hal berlipat, infrastruktur yang memangkas waktu tempuh dan meningkatkan keandalan, pasokan hospitality yang mengangkat tarif malam rata rata destinasi, dan kelangkaan seiring terserapnya lokasi lokasi terbaik. Bali telah menjalankan siklus itu hingga dataran matang di koridor primanya. Lombok masih di awal urutan yang sama, itulah mengapa harga masuk hari ini dihargai terhadap fundamental esok, bukan kemarin.

Pendapat Ahli
Dalam dua dekade mendampingi real estate pesisir Indonesia, pola paling konsisten yang kami amati adalah bahwa capital gain terbesar mengalir ke investor yang masuk ke sebuah koridor sebelum infrastrukturnya rampung, bukan sesudah. Lombok selatan pada 2026 berada tepat di titik infleksi itu, katalisnya sudah komit dan terlihat, tetapi re rating nya belum sepenuhnya terharga.

Linimasa Infrastruktur

Nilai properti mengikuti infrastruktur. Linimasa Lombok menunjukkan destinasi yang bergerak metodis dari katalisator menuju pematangan.

Infrastruktur & pariwisataLinimasa pembangunan LombokProgresi metodis dari katalisator menuju pematangan, urutan yang secara historis me re rating nilai lahan pesisir.
  1. 2018–19Delivered
    KEK Mandalika diaktifkan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika (1.035,67 ha) memasuki fase pengembangan di pesisir selatan Lombok.
  2. 2021–22Delivered
    Sirkuit Mandalika & MotoGP Sirkuit jalan internasional rampung; debut MotoGP menempatkan Lombok di panggung global.
  3. 2024Delivered
    Kunjungan melonjak +51% Kunjungan NTB mencapai ~1,2 juta (+51% YoY); RevPAR hotel Lombok naik ~26%.
  4. 2025–26In progress
    Konektivitas & modal Scoot menambah Singapura–Lombok menjadi 10 penerbangan/minggu; Rp 2,1T terealisasi di Lombok Tengah (Q1 2026).
  5. 2027+Planned
    Fase pematangan Pembangunan jalan, utilitas, dan hospitality berlanjut menuju destinasi yang lebih dalam sepanjang tahun.
Rp 17TKomitmen KEK Mandalika
10/wkPenerbangan Singapura–Lombok (2026)
Rp 2,1TTerealisasi Lombok Tengah (Q1 2026)

Analisis Risiko

Tidak ada tesis yang lengkap tanpa risiko. Kekuatan Bali, kematangan, juga sumber risikonya (saturasi di kantong tertentu). Peluang Lombok, awal siklus, membawa risiko musiman, likuiditas resale lebih tipis, dan kesenjangan infrastruktur yang tersisa. Semua dapat dikelola dengan lokasi tepat dan underwrite konservatif.

Analisis risikoEksposur risiko eksekutifProfil risiko komparatif di kedua pasar. Severity mencerminkan eksposur lebih tinggi; mitigasi berbasis proses.

Saturasi pasar / oversupply

Severity: Elevated
BaliElevated
LombokLow

MitigationTargetkan mikro koridor dengan pasokan terbatas; underwrite terhadap tingkat absorpsi setara.

Risiko harga masuk (overpay)

Severity: Moderate
BaliModerate
LombokLow

MitigationJangkar harga ke benchmark koridor setara; gunakan valuasi independen.

Likuiditas saat exit

Severity: Moderate
BaliLow
LombokModerate

MitigationDefinisikan horizon exit sejak awal; sesuaikan profil aset dengan likuiditas pembeli.

Kesenjangan infrastruktur

Severity: Moderate
BaliLow
LombokModerate

MitigationPrioritaskan koridor dengan investasi publik terkomit dan akses yang membaik.

Musiman permintaan

Severity: Elevated
BaliLow
LombokElevated

MitigationModelkan okupansi musim rendah secara konservatif; diversifikasi kanal sewa.

Perubahan regulasi / zonasi

Severity: Moderate
BaliModerate
LombokModerate

MitigationLibatkan penasihat hukum lokal berlisensi; verifikasi zonasi dan IMB.

Due diligence legal & sertifikat

Severity: Moderate
BaliModerate
LombokModerate

MitigationPencarian sertifikat lengkap, review notaris, dan audit struktur leasehold.

Penilaian advisory LIREP.

Analisis Risiko
Risiko terbesar di pasar emerging bukanlah pasar itu sendiri, melainkan eksekusi: lokasi salah, harga terlalu tinggi, atau due diligence legal yang lemah. Mitigasinya adalah proses, bukan optimisme.

Pasar Mana untuk Investor Mana?

Kerangka keputusan LIREP:

  • Pilih Bali jika prioritas Anda adalah income sewa stabil sepanjang tahun, likuiditas exit, dan pasar yang telah terbukti, dan Anda nyaman dengan harga masuk premium serta apresiasi yang lebih selektif.
  • Pilih Lombok jika Anda seorang early mover yang mengejar capital growth, menginginkan lahan prima yang masih tersedia dengan harga menarik, dan memiliki horizon 5–10 tahun untuk menangkap siklus pematangan.
  • Diversifikasi keduanya , barbell: aset Bali menjangkar income dan likuiditas, aset Lombok menangkap upside asimetris.
Pasar properti yang sukses dibangun atas fundamental, bukan spekulasi. Bali membuktikan tesis itu; Lombok sedang menuliskannya.
LIREP THE REALTORDesk Intelijen Investasi

Perspektif LIREP

Untuk 2026 kami tidak melihat Bali dan Lombok sebagai kompetitor, melainkan dua fase dari kurva investasi yang sama. Bali menawarkan keandalan; Lombok menawarkan asimetri. Investor yang paling siap memahami perbedaan itu, lalu memilih, atau menggabungkan, sesuai tujuan mereka sendiri. Bagi mereka yang mencari runway pertumbuhan dengan harga masuk yang masih rasional, Lombok pada 2026 adalah salah satu peluang paling menarik di Asia Tenggara.

Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Lombok investasi properti lebih baik dari Bali pada 2026?
Tidak ada yang secara universal 'lebih baik', keduanya cocok untuk strategi berbeda. Bali menawarkan permintaan sewa yang dalam sepanjang tahun dan likuiditas bagi investor berorientasi income. Lombok menawarkan harga masuk lebih rendah, lahan prima melimpah, dan ruang capital growth awal siklus. Kerangka komposit LIREP menilai keduanya berdekatan, dengan Lombok unggul pada growth dan value, Bali unggul pada kematangan dan aksesibilitas.
Berapa banyak wisatawan Bali dibanding Lombok?
Bali mencatat 6,33 juta kunjungan asing pada 2024 (BPS Bali), naik menjadi sekitar 6,95 juta pada 2025. Nusa Tenggara Barat, mencakup Lombok dan Kepulauan Gili, mencatat sekitar 1,2 juta kunjungan pada 2024, naik sekitar 51% dari tahun sebelumnya. Bali jauh lebih besar secara volume, tetapi Lombok tumbuh dari basis lebih rendah dengan laju lebih cepat.
Mengapa properti Lombok lebih murah dari Bali?
Lombok berada pada tahap lebih awal dalam siklus pariwisata dan pembangunannya, dengan lebih banyak lahan pantai dan view tersedia serta persaingan lebih rendah untuk lokasi prima. Seiring matangnya infrastruktur, konektivitas, dan pasokan hospitality, seperti Bali dalam dua dekade terakhir, pola historisnya adalah nilai lahan di koridor prima terapresiasi.
Apa itu Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika?
Mandalika (KEK Mandalika) adalah kawasan ekonomi khusus seluas 1.035,67 hektar di pesisir selatan Lombok yang dikelola ITDC, tempat Sirkuit Internasional Mandalika penyelenggara MotoGP. ITDC melaporkan komitmen investasi total sekitar Rp 17 triliun, dan MotoGP 2025 menghasilkan estimasi perputaran ekonomi Rp 4,8 triliun. Ini katalis utama pasar properti Lombok selatan.
Berapa yield sewa yang bisa diharapkan di Lombok?
Vila dengan lokasi dan pengelolaan baik di koridor prima Lombok dapat menargetkan yield bruto menarik, sering kali sebanding atau di atas Bali pada harga beli lebih rendah, karena biaya masuk lebih rendah sementara tarif malam produk premium kompetitif. Yield aktual bergantung pada lokasi, desain, kualitas operasi, dan okupansi. LIREP mengunderwrite setiap aset secara individual.
Bisakah asing memiliki properti di Lombok atau Bali?
Asing tidak dapat memegang hak milik (freehold) secara langsung, tetapi dapat berinvestasi melalui struktur legal yang diakui, umumnya leasehold (Hak Sewa) atau Hak Pakai, dan untuk tujuan bisnis melalui PT PMA yang memegang Hak Guna Bangunan. Struktur yang tepat bergantung pada tujuan dan periode kepemilikan. Nasihat hukum independen sangat penting; LIREP mengoordinasikan mitra hukum tepercaya.
Area Lombok mana terbaik untuk investasi?
Koridor selatan. Kuta Lombok, Mandalika, Selong Belanak, dan Torok, paling langsung diuntungkan oleh KEK, sirkuit, dan infrastruktur jalan baru. Kepulauan Gili dan Senggigi melayani pasar resort dan lifestyle yang mapan. LIREP memetakan setiap mikro pasar berdasarkan pendorong permintaan, pipeline pasokan, dan akses sebelum merekomendasikan titik masuk.
Apakah pasar properti Bali oversupply?
Koridor Bali tertentu, sebagian Canggu dan Uluwatu, mengalami pertumbuhan pasokan vila yang cepat dan penegakan zonasi yang mengetat, yang dapat menekan yield dan memperlambat apresiasi di kantong paling padat. Bali tetap pasar yang dalam dan likuid secara keseluruhan, tetapi pemilihan lokasi dan produk yang disiplin semakin penting.
Seberapa mudah akses udara ke Lombok?
Bandara Internasional Lombok (LOP) melayani sekitar 2,37 juta penumpang pada 2024 (Angkasa Pura I). Konektivitas internasional langsung membaik. Scoot menambah Singapura–Lombok menjadi 10 penerbangan mingguan pada 2026, bersama hub domestik dan penerbangan singkat dari Bali. Aksesibilitas adalah gap yang diketahui versus Bali namun terus menyempit.
Berapa horizon investasi yang umum?
Untuk pasar emerging seperti Lombok, LIREP umumnya membingkai horizon 5–10 tahun untuk menangkap siklus pematangan infrastruktur dan pariwisata, dengan income sewa menopang biaya kepemilikan. Bali dapat cocok untuk horizon berorientasi income lebih pendek karena likuiditasnya. Horizon Anda harus sesuai tujuan dan toleransi risiko.
Apakah angka harga properti ini statistik resmi?
Tidak. Angka pariwisata, kunjungan, bandara, dan investasi dalam laporan ini dikaitkan dengan sumber resmi (BPS, BPS Bali, BPS NTB, Angkasa Pura I, ITDC). Rentang harga properti adalah estimasi advisory LIREP berdasarkan observasi transaksi dan hanya indikatif, bukan statistik resmi dan bervariasi menurut koridor, sertifikat, dan waktu.
Apa risiko utama investasi di Lombok?
Risiko utama adalah musiman permintaan, likuiditas resale yang lebih tipis dari Bali, kesenjangan infrastruktur yang tersisa, dan due diligence legal/sertifikat. Semua dapat dikelola dengan lokasi tepat, underwrite konservatif, manajemen profesional, dan verifikasi hukum ketat, inti proses advisory LIREP.
Apakah Bali masih punya potensi capital growth?
Ya, tetapi semakin spesifik lokasi. Sub pasar Bali yang emerging dan underpriced serta strategi repositioning masih dapat memberi growth, sementara kantong prima paling jenuh mungkin apresiasinya lebih lambat. Kekuatan Bali pada 2026 adalah income sewa yang tahan lama dan likuiditas, bukan capital growth yang seragam.
Bagaimana LIREP menilai kedua pasar?
LIREP menerapkan kerangka proprietary yang menilai delapan dimensi, capital growth, yield sewa, nilai masuk, ketersediaan lahan, kematangan pariwisata, infrastruktur, aksesibilitas, dan likuiditas, pada skala 0–10, dibobot menjadi indeks komposit. Lombok unggul pada growth, value, dan lahan; Bali unggul pada kematangan, aksesibilitas, dan likuiditas. Skor bersifat advisory, bukan statistik.
Haruskah saya diversifikasi di Bali dan Lombok?
Bagi banyak investor, ya. Aset Bali dapat menjangkar income dan likuiditas sementara aset Lombok menangkap upside capital growth awal siklus, barbell yang menyeimbangkan stabilitas dan asimetri. Kombinasi tepat bergantung pada modal, horizon, dan selera risiko Anda, yang dimodelkan LIREP per klien.
Bagaimana memulai investasi bersama LIREP?
Mulai dengan konsultasi discovery. LIREP memetakan tujuan, horizon, dan anggaran Anda ke shortlist peluang yang telah diunderwrite di Lombok dan Kepulauan Gili, mengoordinasikan dukungan hukum dan transaksi, serta dapat mengatur pengelolaan pasca akuisisi. Jadwalkan melalui tautan konsultasi atau WhatsApp.
Referensi & Sumber Data
  1. International Visitor Arrival Statistics 2024 , BPS. Statistics Indonesia (2025)
  2. Foreign Tourist Statistics of Bali Province 2024 , BPS Bali (2025)
  3. Number of Foreign Tourist Visits to Lombok International Airport , BPS Nusa Tenggara Barat (2025)
  4. Lombok Airport Serves Over 2.3mn Passengers Throughout 2024 , Tempo / Angkasa Pura I (2025)
  5. KEK Mandalika, investment commitment & MotoGP turnover , ITDC / KEK Mandalika (2025)
  6. In Focus: Indonesia. Lombok hotel performance (RevPAR) , HVS (2025)

Bacaan Lanjutan

Bekerja dengan LIREP Ubah analisis ini menjadi peluang yang terunderwrite

Pesan konsultasi discovery dan kami akan memetakan tujuan, horizon, dan anggaran Anda ke shortlist peluang Lombok dan Gili yang tervalidasi, lengkap dengan dukungan hukum dan pengelolaan.

Disclaimer

Laporan ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan nasihat keuangan atau hukum. Angka pariwisata, kunjungan, bandara, dan investasi dikaitkan dengan sumber resmi; rentang harga properti adalah estimasi advisory LIREP yang bersifat indikatif. Investor dianjurkan memperoleh nasihat hukum, pajak, dan keuangan independen sebelum mengambil keputusan.